Dampak Pandemi Covid 19 terhadap Sektor Ekonomi dan Pendidikan

Dampak Pandemi Covid 19 terhadap Sektor Ekonomi  dan Pendidikan

Oleh : Isabella (Mahasiswa S3 Administrasi Publik FISIP UNSRI& Dosen UIGM)

 

Saat ini dunia sedang dilanda mewabahnya penyakit yang disebabkan oleh Corona Virus diseases-19 atau yang dikenal dengan Covid 19. Virus yang telah menyebar hampir keseluruh dunia ini mulanya mewabah diperkirakan akhir Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.  Namun hingga saat ini sebarannya semakin meluas ke seluruh negara-negara di dunia. Hingga akhirnya WHO menetapkan pada tanggal 11 Maret 2020 Covid 19 ini sebagai wabah pandemi global.

Data terakhir yang dikutip dari WHO per tanggal 28 April 2020, tercatat sebanyak 213 negara telah mengalami pandemi Covid 19, selanjutnya terkonfirmasi 2.959.929 orang terkena Covid 19, dan yang meninggal sebanyak 202.733 orang  di seluruh dunia. Sedangkan untuk di Indonesia sendiri tercatat sebanyak 9.511 orang positif Covid 19, selanjutnya sebanyak 1.522 orang dinyatakan sembuh dan 773 orang meninggal dunia. Untuk wilayah Sumatera Selatan per tanggal 29 April 2020 melalui corona.sumselprov.go.id tercatat sebanyak 143 orang positif Covid 19, sebanyak 4 orang meninggal dunia, 22 orang dinyatakan sembuh dan 153 orang negatif Covid 19.

Wabah ini telah menimbulkan dampak secara global di seluruh dunia pada semua sektor kehidupan manusia. Gejala awal dari Covid 19 ini dapat berupa gejala sakit flu, seperti demam, batukkering, disertai sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Selanjutnya gejala ini semakin memberatkanmanusia atau pasien,  bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah,sesak napas, dan nyeri dada. Gejala semacam ini muncul ketika tubuh bereaksimelawan Covid 19.

Keberadaan wabah ini menimbulkan dampakbegitu besar terhadap ekonomi dan dunia pendidikan. Karena penyebaran Covid 19 ini begitu cepat, UNESCO mencatat setidaknya  ada   kurang lebih 577.305.660siswa pra-sekolah dasar hingga menengah atasdi seluruh dunia yang aktivitas belajarnya  menjadi  terganggu  akibat  sekolah yang  ditutup.Sedangkan jumlah pelajar yang berpotensi berisiko dari pendidikan tinggi kurang lebih 86.034. 287 orang.

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah terkait dampak penyebaran Covid 19 ini. Pada bidang pendidikan melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah dikeluarkan beberapa kebijakan yang berkaitan dengan masalah pendidikan yang terdampak Covid 19. Namun tidak semua kebijakan dapat diterapkan diseluruh wilayah di Indonesia, karena wilayah negara Indonesia yang begitu luas dengan berbagai persoalan mendasar yang dihadapi masing-masing daerah. Untuk itu perlu terus dilakukan langkah-langkah konkrit agar kebijakan yang ditetapkan pemerintah semasa pandemi Covid 19 ini dapat berjalan dan meminimalisir permasalahan pendidikan di Indonesia.

 

Kebijakan pada Bidang Pendidikan, Ekonomi dan Problematikanya

Himbauan untuk meminimalisir penyebaran Covid 19, berbagai upaya dilakukan seperti masyarakat wajib mengenakan masker jika keluar rumah, sering mencuci tangan, physical distancing(menjaga jarak aman) dengan sesama, social distancing (pembatasan kegiatan sosial/melibatkan orang banyak), dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah yang masuk dalam zona merah pandemi Covid 19. Bahkan beberapa negara melakukan Lockdown(karantina wilayah) untuk memutus mata rantai penyebaran Covid 19.

Dalam bidang pendidikan melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus diseases-19(Covid 19), memberikan arahan kepada pemerintah daerah di seluruh wilayah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah dalam mencegah penyebaran Covid 19 ini sesuai dengan petunjuk yang ada. Diantaranya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2020 dibatalkan, sejak tanggal 16 Maret 2020  kegiatan pembelajaran sisa tahun ajaran 2019/2020 dilaksanakan di rumah atau melalui daring (dalam jaringan)/jarak jauh, atau Study From Home (SFH) dan Work From Home (WFH) bagi para pegawai baik guru maupun dosen. Kebijakan ini tentunya diikuti oleh semua sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Tak terkecuali di Sumatera Selatan dan khususnya di Kota Palembang. Menindaklanjuti instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, di Sumatera Selatan hingga saat ini siswa masih melaksanakan SFH hingga 29 Mei 2020. Begitu juga pada tingkat perguruan tinggi, melalui L2DIKTI wilayah II, telah dikeluarkan surat himbauan, bagi mahasiswa dan dosen melaksanakan SFH dan WFH.

Untuk pembatalan UN secara keseluruhan bagi sekolah merupakan instruksi menteri Pendidikan dan Kebudayaan pelaksanaannya biasanya serentak di seluruh wilayah Indonesia. Namun untuk pelaksanaan pembelajaran di rumah atau melalui pembelajaran jarak jauh secara online, tentu akan menimbulkan dampak positif dan negatif tersendiri.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan SFHserta WFH dapat dilakukan dengan persyaratan-persayaratan tertentu. Untuk lembaga pendidikan setingkat universitas terdapat aturan tersendiri terkait pelaksanaan PJJ. Sehingga bagi universitas yang telah biasa melaksanakan PJJ tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan pada kondisi dampak Covid 19 ini. Misalnya Universitas Terbuka (UT) yang memang sudah melaksanakan PJJ, dan beberapa universitas lainnya yang ada di Indonesia.

Namun ketika SFH dan WFH diterapkan pada semua universitas, muncul persoalan baru, yaitu kesiapan masing-masing universitas untuk melaksanakannya, mulai dari dosen (SDM) yang tidak gagap teknologi, perangkat pembelajaran, materi hingga kondisi mahasiswa sendiri. Universitas sendiri harus menyiapkan perangkat komputer/jaringan yang bisa mengakomodir/mengontrol jalannya SFH dan WFH melalui server yang ada di universitas. Universitas harus menjamin bahwa pelaksanaan sistem pembelajaran online ini harus berjalan sesuai denga ketentuan yang ada dan proses belajar mengajar berjalan secara lancar.

Hal lain yang harus menjadi perhatian pihak universitas kemampuan mahasiswa dalam menyiapkan kuota yang cukup selama SFH. Sebagaimana diketahui, berdasarkan hasil observasi penulis pada mahasiswa, tidak semua mahasiswa mampu membeli kuota internet setiap saat untuk melaksanakan SFH dan WFH, karena keduanya memerlukan jaringan internet dan aplikasi-aplikasi tertentu dalam proses pembelajaran. Masalah berikutnya tidak semua mahasiswa mempunyai fasilitas penunjang SFH, seperti smartphone, laptop maupun perangkat komputer.

Dampak yang paling besar akibat pandemi Covid 19 ini adalah dibidang ekonomi. Dalam hal ini perekonomian yang berkaitan dengan pembiayaan pendidikan di semua tingkatan pendidikan. Misalnya sistem pembayaran Sumbangan Penyelenggaran Pendidikan (SPP), di masa pandemi ini banyak karyawan yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan banyaknya usaha orang tua para wali siswa dan mahasiswa gulung tikar. Begitu juga mahasiswa yang sambil kerja, juga mengalami dampak PHK.Pekerja juga terkena dampak Covid 19 bagi perekonomian, dan akan membutuhkan cara menghasilkan uang dari rumah saat wabah.

Untuk itulah diperlukan solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut. Misalnya beberapa universitas di Indonesia melakukan pemotongan SPP kepada mahasiswa, untuk membantu mahasiswa selama masa pandemi Covid 19 ini. Pemotongan SPP dialihkan agar mahasiswa dapat membeli kuota internet untuk dapat mengikuti perkuliahan jarah jauh hingga akhir perkuliahan tahun ajaran 2019/2020. Sekolah maupun universitas harus lebih bijak dalam menyikapi pembayaran SPP siswa dan mahasiswa, jangan sampai setelah terjadinya pandemi Covid 19 ini banyak siswa yang putus sekolah dan mahasiswa yang drop out ataupun stop out.

Dalam setiap suatu peristiwa yang menimpa manusia, pasti ada sesuatu yang menimbulkan orang untuk berfikir terhindar dari dampak peristiwa tersebut. Hal ini lah yang membuat orang-orang berfikir kreatif ditengah wabah Covid 19 ini. Misalnya disaat orang lain kehilangan pekerjaan karena di PHK, orang-orang yang kreatif membuat usaha baru yaitu pembuatan masker kain dan alat pelindung diri (APD). Walaupun usaha ini belum dapat dipastikan dapat berlangsung lama atau tidak, namun setidaknya orang bisa bertahan memnuhi kebutuhan hidup ditengah wabah Covid 19 ini.

Pada sisi lain secara positif SFH dan WFH memacu kreativitas baik guru, dosen maupun siswa dan mahasiswa. Guru dan dosen tentunya dituntut untuk kreatif memberikan materi yang akan diajarkan secara online dengan berbagai variasi, mulai dari menggunakan video, Power Point (PPt), modul dan penjelasan materi secara langsung. Penguasaan teknologi untuk memberikan materi pembelajaran secara online menjadi kebutuhan yang mendasar bagi para dosen dan guru. Berbagai aplikasi e-learning, zoom, google classroom, dan sebagainya menjadi alternatif pilihan dalam proses pembelajaran online.

Hal lainnya yang dapat memacu kreativitas siswa dan mahasiswa adalah tugas yang diberikan bapak ibu dosen dan guru lebih bervariasi dan membuat siswa dan mahasiswa menciptakan berbagai hasil karya yang lebih kreatif. Misalnya dari pengamatan penulis banyak media-media yang dibuat oleh siswa dan mahasiswa untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat terhadap bahaya Covid 19. Baik itu mellaui poster, video, sosiodrama, flayer, hingga menciptakan hand sanitizer, ataupun menciptakan alat-alat yang dibutuhkan tenaga medis dalam melindungi diri dari penularan Covid 19 ini. Misalnya menciptakan alat pelindung diri, masker, alat-alat pencuci tangan dan sebagainya.

Selama masa pandemi Covid 19 ini, peran orang tua menjadi lebih penting terutama terhadap anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah. Karena penggunaan smartphone menjadi lebih banyak. Orang tua harus menyiapkan alat dan sistem pembelajaran jarak jauh dan melakukan bimbingan kepada anak –anak agar bisa menggunakan teknologi moderen dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas anaknya. Orang tua yang mempunyai kendala dengan tuntutan kerjanya dan tuntutan untuk mendampingi pembelajaran anak di rumah ada yang melampiaskannya ke guru. Meskipun demikian, banyak juga orang tua siswa yang sangat apresiatif karena mengalami sendiri bahwa mengajar dua anak di rumah saja sulit, apalagi seperti guru yang harus mengajar 20 anak di kelas.Yoo (2014) merasakan adanya kesenjangan antara ideal dan kenyataan dalam mengintegrasikan interaksi sebagai bagian dari aktivitas online dalam pembelajaran.Perlu pendampingan orang tua selama anak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, dengan pendampingan orang tua penggunaan smartphone dapat tetap terkendali. Selain itu  persediaan kuota untuk mengakses internet harus lebih dari biasanya.

Selanjutnya ada permasalahan lain bagi masyarakat kita yang tidak memiliki smartphone, apalagi jaringan internet. Mengingat wilayah Indonesia yang luas ini, masih ada yang belum bisa menangkap sinyal handpone maupun jaringan internet. Untuk itulah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama deng Televisi Republik Indonesia (TVRI) membuat program tayangan belajar di rumah mulai pukul 08.00 WIB untuk tingkat PAUD dan dilanjutkan dengan tingkatan Sekolah Dasar hingga menengah atas atau sederajat. Namun ada juga guru terpaksa mendatangi rumah siswa-siswa yang di daerah terpencil untuk memberikan materi pembelajaran selama masa pandemi Covid 19 ini, diakrenakan siswa tidak memiliki smartphone apalagi perangkat komputer dan internet.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Agus Purwanto dkk (2020) dampak pandemi Covid 19 terhadap siswa diantaranya belum ada budaya belajar jarak jauh karena selama ini sistem belajar dilaksanakan adalah melalui tatap muka, siswa terbiasa berada di sekolah untuk berinteraksi dengan teman-temannya, bermain dan bercanda gurau dengan teman-temannya serta bertatap muka dengan para gurunya, dengan adanya metode pembelajaran jarah jauh membuat para siswa perlu waktu untuk beradaptasi dan mereka menghadapi perubahan baru yang secara tidak langsung akan mempengaruhi daya serap belajar mereka. Selanjutnya menurut Zapalska (2006) jika seorang siswa tertentu belajar terbaik dengan cara tertentu, ia harus dihadapkan pada berbagai pengalaman belajar untuk menjadi pembelajar online yang lebih fleksibel.Menurut Drago (2004) Temuan menunjukkan bahwa siswa online lebih cenderung memiliki gaya belajar visual dan baca tulis yang lebih kuat.

Hal lain yang telah ditempuh baik pemerintah maupun swasta dalam mengatasi masalah pendidikan selama wabah Covid 19 ini belum berakhir, adalah bekerjasama dengan penyedia jasa layanan internet/ jaringan internet. Dengan memberikan paket-paket internet termurah yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Seperti Ruang guru bekerjasama dengan Telkomsel, ataupun paket-paket kuota murah yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai lapisan masyarakat agar proses pembelajaran tetap dapat berjalan.

Dampak penyebaran Covid 19 ini telah memberikan banyak perubahan pola hidup manusia tak terkecuali di Indonesia. Dalam bidang pendidikan di masa pandemi Covid 19 ini kreativitas dan inovasi semakin dituntut untuk lebih dikembangkan guna menunjang proses pembelajaran. Sehingga walaupun sedang mengalami masa mewabahnya Covid 19 ini proses belajar mengajar dapat terus berjalan. Secara keseluruhan perlu kerjasama yang baik antara pemerintah, lembaga pendidikan, guru, dosen dan orang tua dalam menyikapi dampak penyebaran Covid 19 ini terhadap bidang pendidikan. Terlebih lagi di Indonesia yang masih banyak persoalan lain yang harus diselesaikan sebagai imbas dari penyebaran  Covid 19 ini. Dengan memaksimalkan peran masing-masing semuanya menjadi penting dan saling ketergantungan dalam mengatasi masalah pendidikan selama masa pandemi Covid 19 ini berlangsung.

Berbagai usaha telah dilakukan, mulai dari sosialisasi bahaya Covid 19 ini, upaya pencegahan menyebarnya wabah tersebut.  Berbagai kebijakan pemerintah telah dikeluarkan diberbagai sektor seperti, ekonomi, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, perhubungan, pariwisata dan sektor lainnya agar penyebaran Covid 19 ini segera berakhir. Hingga pada akhirnya dapat dirasakan banyak hikmah yang dapat dipetik dari masa pandemi Covid 19 ini. Terlebih lagi terhadap dunia pendidikan. Guru dan dosen semakin inovatif dan dituntut untuk mengenal berbagai teknologi dalam media pembelajaran. Apa yang dilakukan saat ini, kuliah online sebetulnya hal yang baru untuk dilaksanakan. Bagi negara-negara maju kuliah atau pun belajar jarak jauh hal yang biasa, dengan ditunjang teknologi pendidikan yang memadai. Namun bagi negara-negara berkembang, hal ini menjadi barang baru dan masih perlu penyesuaian penggunaannya. Dengan adanya pandemi Covid 19 ini tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi secara positif memberikan pembelajaran sekaligus memaksa dunia pendidikan untuk berinovasi dengan teknologi pendidikan terkini.

Pemerintah juga dituntut untuk mempertimbangkan betapa pentingnya sektor pendidikan dalam membangun karakter masyarakat. Hal ini terlihat ketika wabah Covid 19 ini masuk ke Indonesia. Betapa sulitnya memberikan pengertian kepada masyarakat untuk menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan. Hal ini disebabkan pola pikir/ karakter masyarakat yang belum terbentuk dengan baik mengenai pentingnya menjaga kebersihan. Merubah pola pikir tentu membutuhkan kerjasama dan kerja keras, mendidik masyarakat untuk merubah pola hidup menjadi lebih baik. Perlu media penyampaian informasi, penambahan pengetahuan masyarakat melalui sosialisasi, sehingga masyarakat mengerti dampak Covid 19 ini. Pendidikan tentunya memegang peranan penting dalam mengatasi masalah ini.(***)