Penambahan Kuota FLPP Mendesak Direalisasikan

Penambahan Kuota FLPP Mendesak Direalisasikan
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumsel, Bagus Pranajaya.(foto ist)

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Rendahnya kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) menjadi penyebab utama ribuan rumah subsidi tak bisa di pasarkan. Pengembang, telah membangun rumah tetapi belum bisa dilakukan akad kredit karena FLPP tak tersedia lagi, melansir radarpalembang, beberapa waktu lalu.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumsel, Bagus Pranajaya mengatakan pihaknya sampai kini tidak bisa melaksanakan akad kredit karena program rumah subsidi habis. Alasannya, kuota yang dikucurkan tahun 2019 lebih rendah dari 2018 lalu. Bahkan, kini kuota per semester II tahun ini sudah habis, katanya.

Dia menjelaskan, dari 280 ribuan unit untuk kuota 2018 lalu, dan tahun ini hanya 150 ribuan unit. Akibatnya, baru memasuki semester kedua tahun ini kuota sudah habis, tambah dia.

Dia mengatakan, sampai kini pengembang di Sumsel dan secara nasional masih berharap agar segera ditambah kuota program rumah subdisi. Namun, hingga kini belum ada kepastian terkait penambahan kuota tersebut, kata dia.

Padahal dia menjelaskan, REI selalu berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait pemenuhan permintaan rumah bagi MBR ini. “Awal Agustus lalu, baik anggota REI dan asosiasi perumahan lainnya bolak balik ke pemerintah, harus ada kebijakan mengatasi ini,”ungkap dia.

Tahun ini, rencananya DPD REI Sumatera Selatan menargetkan penjualan diangka 13 ribu unit. Menurut Bagus, KPR FLPP 13 ribu unit bisa saja terealisasi, andai di 2019 ini kuota bergulir dengan baik, mengacu 1 juta rumah target pemerintah pusat.

Nyatanya, keluh Bagus, kita hanya merealisasikan 6.000 – 7.000 unit rumah bagi MBR, karena kuota rumah subsidi sudah habis awal semester kedua lalu. “Statusnya (rumah,red) terbengkalai, konsumennya sudah ada tapi tidak bisa akak kredit.”

Memang, ada angin segar dimana pemerintah pusat akan mengucurkan dana bagi kuota tambahan rumah subsidi. “By data rumah sudah siap, konsumen sudah siap tapi kuota tidak ada,”ungkap dia.

Dalam waktu dekat, kata Bagus, kawan-kawan masih menunggu apa hasilnya, pemerintah buat statement, dimana akan mengucurkan dana Rp2 triliun, sampai saat ini belum terwujud realisasinya.

Kalaupun dana tersebut dikucurkan bagi kuota rumah subisidi, perkiraan Bagus, belum akan mampu mengatasi ribuan unit rumah terbengkalai menunggu akad kredit yang tertunda akibat habisnya kuota.

“Kalau Rp2 triliun terwujud, hanya sekitar memeunuhi kebutuhan 14 ribu-15 ribu unit rumah, ini kuota secara nasional. Kita belum bisa hitung untuk Sumsel karena memang kuota pastinya belum turun,”ulas dia.

Bagaimana dengan kebutuhan Sumatera Selatan? “Kami sendiri tidak yakun semua kebutuhan akan terealisasi. Apalagi Sumsel saja target setahun 13 ribu, realisasi terakhir 7 ribuan, dan prediksi tambahan 14 ribu unit, sulit tercukupi kebutuhan di Sumatera Selatan,”kata dia.

Sekretaris DPD REI Sumsel, Zewwi Salim, mengatakan secara nasional, FLPP di Sumatera, kita (Sumsel,red) terbesar (realisasi rumah subsidi,red) berkembang memberikan kontribusi terhadap perumahan.

”Sumsel ini nomor satu reaslisasi FLPP di Sumatera, dan 5 besar di Indonesia. Pangsa pasar di kita terus berkembang, bahkan dari tahun ke tahun jumlah maupun target kita meningkat,” ujarnya.

Sebagai contoh, lanjut Zewwi, ambil 3 tahun ke belakang, realisasi kita terus meningkat. “Di 2017 kita tembus diangka 10 ribu, lalu di 2018 kita tembus diangka 12 ribu. Di 2019 kalau tidak ada kendala di kuota kita optimis 15 ribu.”

Potensi dan permintaan rumah bagi masyarakat masih terbuka luas.”Karena pangsa pasar FLPP ini fokus  dari pengembang karena sesuai dengan permintaan masyarakat cukup besar,” ujarnya.(net)