Deru Siap jadi Marketing Kopi Sumsel 

Deru Siap jadi Marketing Kopi Sumsel 
Gubernur Herman Deru mengaggas dibentuknya akademi kopi di Sumatera Selatan (Sumsel). (Ist)

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA.com – Gubernur Herman Deru mengaku siap menjadi marketing kopi Sumatera Selatan, sebagai salah satui upaya semakin mengenalkan komoditas unggulan di daerah tersebut.

"Kopi menjadi salah satu komoditas unggul Sumsel yang memiliki berbagai keistimewaan dan semakin dikenal secara luas," katanya, di Palembang, kemarin.

Dia menjelaskan, karena itu, dirinya telah berkomitmen untuk membangun akademi kopi sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas kopi dan berdampak pada kesejahteraan petani.

Selama ini, meskipun termasuk penghasil kopi di Indonesia dan telah mengekspor komoditas tersebut, tetapi ketenaran kopi asal bumi sriwijaya masih kalah dari daerah lain, tambah dia.

Karena itu, Deru mengatakan siap menjadi marketing kopi asli Sumatera Selatan dengan terus mempromosikan kopi Sumsel lebih mendunia.

Sementara sampai kini, setelah karet dan sawit, tanaman kopi masih menjadi komoditas unggulan dari Sumsel dengan luas kebun mencapai 300 ribu hektare lebih.

Dimana, kepemilikan kebun kopi adalah murni milik rakyat bukan perusahaan atau korporasi seperti perkebunan sawit, ujar dia.

Sementara enam kota/kabupaten penghasil kopi terbesar adalah Pagaralam, Muara Enim, Lahat, OKU Selatan, Empat Lawang dan Musi Rawas. 

Deru menambahkan, meskipun menjadi penghasil kopi terbesar, namun kopi Sumsel sering diklaim oleh daerah lain karena belum memiliki pelabuhan sebagai fasilitas ekspor.

“Alasannya, hanya kita tidak punya pelabuhan samudera, saya akan memandu generasi muda, pemerintah daerah, asosiasi pecinta kopi, agar menjadi kekuatan ekonomi bersama,”sambungnya.

Menggagas akademi kopi juga sebagai upaya edukasi agar petani kopi juga menjadi wirausahawan (pelaku usaha) di tanahnnya sendiri. Pada komoditas kopi, ada tahapan penanaman, produksi dan marketing. Petani memiliki keterbatasan karena mereka hidup di pedesaan, karena itu pemerintah dan asosiasi yang menaunginya perlu melakukan marketing terus menerus.

“Kopi dipelihara masih konvensional, dijual traditional sudah dapat memberikan kesejahteraan. Apalagi kita olah modern, maka kita jual dengan memanfaatkan digital saat ini. Kita yang punya tanggung jawab ini agar mereka bisa mendunia,” kata Deru seraya mengatakan jika Sumsel juga memiliki kopi yang bisa hidup di lahan gambut seperti halnya, kopi liberica.(net/ert)